Headlines

MUI: Donor Darah tidak membatalkan puasa

Posted by infosukabumi | Minggu, 28 Juli 2013 | Posted in ,

Jakarta, 24/7 - Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Ma`ruf Amin mengatakan donor darah pada Ramadan tidak membatalkan puasa.

"Donor darah sama sekali tidak membatalkan puasa," ujar Ma`ruf di Jakarta, Rabu.

Donor darah, lanjut dia, justru berpahala apalagi dilakukan pada bulan suci Ramadan yang penuh berkah. Oleh karena itu, dia meminta umat Muslim tidak ragu melakukan donor darah saat berpuasa.

Sebelumnya, Kepala Bidang Penyediaan Darah Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia Pusat (UTDP PMI) dr Ulfa Suryani MARS mengatakan persediaan darah nasional mulai menipis.

Bahkan untuk persediaan golongan darah A dan AB di Jakarta, Bogor, dan Padang dinyatakan sudah habis.

Sementara itu, persediaan darah untuk golongan O dan B masih dinyatakan aman karena 70 persen penduduk Indonesia memiliki golongan darah tersebut.

"Masyarakat banyak yang enggan mendonorkan darah saat puasa karena banyaknya mitos yang beredar seperti bisa membatalkan puasa dan membuat lemas. Padahal itu semua tidak benar," jelas Ulfa.

PMI bekerja sama dengan puluhan masjid, gereja, serta beberapa pusat perbelanjaan dengan membuka gerai sebagai lokasi donor darah.
(Antara)

WHO: Penyakit Lepra masih jadi ancaman

Posted by infosukabumi | | Posted in ,

Jakarta, 24/7 - Badan Kesehatan Dunia mengingatkan bahwa bahaya wabah penyakit lepra masih mengancam banyak negara endemik penyakit tersebut.

Peringatan itu disampaikan dalam pembukaan International Leprosy Summit di Bangkok, Thailand, Rabu.

"Tantangan kita adalah untuk mempertahankan kualitas pelayanan kesehatan untuk lepra untuk memastikan seluruh masyarakat yang terjangkit lepra, di manapun mereka berada, memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan diagnosa sedari awal dan dirawat oleh tenaga kesehatan yang kompeten,"
kata Regional Director WHO South-East Asia Dr Samlee Plianbangchang dalam keterangan persnya yang diterima di Jakarta, Rabu.

Menteri kesehatan dari delapan negara Asia Tenggara berkumpul dalam pertemuan tiga hari tersebut (24-26 Juli) yang dilaksanakan oleh WHO dan Nippon Foundation untuk mendiskusikan situasi penyakit lepra terbaru dan strategi-strategi yang dibutuhkan untuk mengurangi beban akibat lepra dan mewujudkan dunia bebas lepra.

"Meski kita telah berhasil mengurangi beban akibat penyakit tersebut di seluruh negara endemis, tidak ada ruang untuk berpuas diri. Peperangan akhir melawan lepra belum dimenangkan," kata Plianbangchang.

Pengembangan terapi "multidrug" pada tahun 1980-an efektif menyembuhkan 16 juta orang dalam 20 tahun terakhir namun di banyak negara dimana penyakit itu endemis, tingkat penemuan kasus baru cenderung tetap atau malah menunjukkan peningkatan.

Secara global, kasus baru lepra terdeteksi setiap dua menit dan tujuh dari sepuluh kasus terjadi pada anak-anak.

Sementara informasi yang salah mengenai lepra masih terus ada di masyarakat dan penyakit tersebut terus terselubung dalam stigma dimana masyarakat masih mengasingkan penderita bahkan setelah mereka disembuhkan.

Serupa dengan seruan Plianbangchang, Ketua Nippon Foundation dan Duta Khusus WHO untuk Pemberantasan Lepra Yohei Sasakawa juga menyatakan bahwa tantangan yang tersisa menjadi semakin sulit dan kompleks.

"Populasi target juga tinggal di area yang sulit dijangkau seperti kawasan kumuh perkotaan, daerah perbatasan dan kawasan etnis minoritas. Terlebih lagi, sumberdaya yang tersedia di setiap negara semakin berkurang," kata Sasakawa.

Sasakawa menyerukan seluruh pihak terlibat untuk membuat komitmen politik dan menyumbangkan sumberdaya dan keahlian untuk perjuangan melawan lepra, seperti yang dicontohkan Nippon Foundation dengan menyumbangkan 20 juta dolar AS untuk lima tahun kedepan.

Sejak tahun 1995, WHO menyediakan multidrug therapy (MDT) secara gratis bagi pasien diseluruh dunia yang awalnya didanai oleh Nippon Foundation tapi sejak tahun 2000 didanai oleh Novartis Foundation for Sustainable Development.

Hampir 16 juta orang yang telah disembuhkan dari lepra oleh MDT dan lebih dari 10 juta telah berhasil dicegah dari menderita cacat tubuh akibat lepra.

Jumlah negara dengan endemi tinggi telah menurun dari 122 negara pada tahun 1985 menjadi kurang dari 20 negara namun dibalik perkembangan pesat tersebut, penyakit lepra masih menjadi masalah kesehatan utama di kantong-kantong endemi tersebut.

Pada tahun 2012 ada 232.850 kasus lepra baru yang dilaporkan dengan 94 persen kasus tersebut ditemukan di 15 negara endemis yang banyak diantaranya berada di Asia Tenggara dan Afrika, meningkat sebanyak 6.224 kasus baru dari tahun 2011.

Namun peningkatan terjadi pada jumlah orang yang mencari pengobatan begitu mereka telah menderita kecacatan akibat lepra dari 13.079 orang pada 2011 menjadi 14.409 orang di 2012 yang menandakan bahwa masih sangat dibutuhkannya deteksi dini kasus untuk menghindari terjadinya kecacatan pada kasus-kasus lepra baru.

Dalam rangka mengatasi hal tersebut dan memastikan layanan bagi penderita lepra tetap berlangsung untuk mengurangi beban kesehatan global, banyak hal yang masih harus dilakukan.

WHO menyarankan perawatan segera dengan MDT dan mengalokasikan lebih banyak sumberdaya untuk memfasilitasi deteksi dini penyakit yang dapat dicapai dengan melatih tenaga kesehatan yang ada untuk mengenali dan merawat lepra sehingga bisa mendeteksi penyakit tersebut lebih awal.

(Antara)

PMI: Persediaan Darah Nasional menipis

Posted by infosukabumi | Rabu, 24 Juli 2013 | Posted in


Jakarta, 23/7 - Persediaan darah nasional yang dimiliki Palang Merah Indonesia kini mulai menipis sebagaimana dikatakan oleh Kepala Bidang Penyediaan Darah Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia Pusat (UTDP PMI) dr Ulfa Suryani MARS.

"Persediaan darah secara nasional kini sudah menipis terutama untuk golongan A dan AB, sementara golongan O dan B masih banyak sehingga dinyatakan aman," kata Ulfa saat dihubungi Antara di Jakarta, Selasa.

Ulfa mengungkapkan bahwa PMI kini sudah tidak memiliki pasokan darah khusus untuk darah golongan A dan AB di wilayah Jakarta, Bogor, dan Padang.

Sementara itu persediaan darah untuk golongan O dan B masih dinyatakan aman karena 70 persen penduduk Indonesia memiliki golongan darah tersebut.

"Sehingga dari prediksi di golongan darah itu, golongan darah A dan AB dinyatakan masih kurang," kata Ulfa.

Selain itu pasokan darah yang mengalami penurunan pada bulan Ramadhan diprediksi Ulfa karena umat Muslim enggan mendonorkan darahnya saat sedang menjalani ibadah puasa, karena takut akan membuat tubuhnya lemas atau membatalkan puasanya.

Untuk mengatasi kurangnya pasokan darah, PMI bekerja sama dengan puluhan masjid, gereja, serta beberapa pusat perbelanjaan dengan membuka gerai sebagai lokasi donor darah yang dikoordinir oleh Unit Transfusi Darah Pusat, yang kemudian disalurkan kepada Unit transfusi Daerah yang
membutuhkan.

(Antara)

Sanitasi Sehat Sebagai Investasi Pariwisata

Posted by infosukabumi | | Posted in , ,

Jakarta, 22/7 - Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisara dan Ekonomi Kreatif, Bakri menyatakan bahwa sanitasi yang bersih dan sehat merupakan investasi yang penting bagi pariwisata Indonesia.

"Toilet yang bersih, salah satu investasi yang penting bagi pariwisata untuk melayani wisatawan dengan lebih baik," ujar Bakri dalam jumpa pers World Toilet Summit 2013 di Jakarta, Senin.

Kebersihan toilet dan sanitasi yang memadai lalu dimasukkan ke dalam Sadar Wisata karena dianggap menjadi hal yang sangat penting dalam pembangunan destinasi wisata di Indonesia.

Dia menjelaskan bahwa tempat wisata atau restoran dengan sanitasi yang baik tentu akan ramai dikunjungi karena memberikan nilai tambah dalam bentuk kenyamanan dalam hal sanitasi.

Dengan semakin banyak wisatawan yang berkunjung, maka diharapkan sanitasi yang baik juga memberikan dampak positif terhadap nilai ekonomi.

"Maka kami memberikan penghargaan pada lokasi publik atau tempat rekreasi yang punya toilet bersih seperti bandara internasional, kebun binatang, taman rekreasi, dan `homestay` rumah penduduk," ungkap Bakri.

Pada 27 September 2013 Kementerian Pariwisara dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berencana untuk menggelar Penghargaan Sapta Pesona Toilet Umum Terbersih Bandar Udara (Bandara) di Indonesia 2013.

"Saat ini sedang dalam proses seleksi," kata dia.

Bakri menyebutkan toilet umum bandara yang akan diseleksi itu tersebar di bandara-bandara internasional maupun nasional di 19 provinsi di Indonesia.

Sebelum penganugerahan toilet umum bersih di bandar udara, Kemenparekraf telah melaksanakan penganugerahan Penghargaan Sapta Pesona Toilet Umum Bersih di Museum Tahun 2010, Kebun Binatang Tahun 2011, dan Taman Rekreasi Buatan Tahun 2012.

sumber : Antara

Indonesia Peringkat Semblan Penderita Diabetes Terbanyak

Posted by infosukabumi | Sabtu, 20 Juli 2013 | Posted in ,


Jakarta, 19/7 - Indonesia menduduki peringkat sembilan sebagai negara dengan penderita diabetes terbanyak di dunia, sebagaimana dinyatakan oleh Ketua II Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr Aman Pulungan, SpA(K).

"Berdasarkan data dari Diabetes Atlas IDF tahun 2010, Indonesia menduduki peringkat sembilan dengan 7,6 juta penduduk menderita diabetes," ujar Aman pada diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis sore.

Dengan pola makan dan pola hidup yang serupa seperti saat ini, Aman mengkhawatirkan bahwa pada 2020 posisi Indonesia akan naik ke peringkat enam sebagai negara dengan penderita diabetes terbanyak.

Diabetes Atlas IDF memperkirakan Indonesia akan memiliki sekitar 12 juta penduduk yang menderita diabetes.

"Ini merupakan satu epidemik yang mengerikan. Bagaimana tidak, diabetes bahkan sudah menyerang usia anak-anak," jelas Aman.

Ia mengemukakan bahwa sekitar dua juta remaja atau sekitar satu dari enam remaja gemuk dengan usia 12 hingga 19 tahun, sudah memasuki tahap pre-diabetes.

"Saya takut ini adalah generasi yang anak-anaknya bisa meninggal lebih cepat daripada orangtuanya akibat pola makan dan pola hidup yang sebabkan diabetes," tambah dia.

Menurut Aman, pola makan anak yang tidak sesuai dengan pola makan seimbang sehat dengan memilih makanan tinggi lemak dan kalori seperti makanan siap saji, jelas memicu terjadinya diabetes.

"Belum lagi bila mereka kurang aktivitas fisik di luar ruangan, tidak olahraga, jadi gemuk, obesitas, lagi-lagi memicu diabetes," tegas Aman.

Kurangnya berolahraga, akan membuat energi berlebih dari asupan kalori tidak tersalurkan. Hal ini menurut Aman akan menyebabkan sisa energi tersimpan di tubuh dalam bentuk lemak.

Timbunan lemak tentu picu obesitas yang menyebabkan resistansi insulin dan lalu memicu diabetes tipe II.

"Diabetes tipe II sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius pada populasi anak dan remaja," kata Aman.

Dia menambahkan bahwa peningkatan penderita diabetes tipe II di kalangan remaja dan anak-anak sejalan dengan epidemi obesitas di kalangan remaja dan anak-anak.

Aman lalu mengimbau bahwa jika dijumpai tanda mencurigakan pada anak, sebaiknya dilakukan skrining (penapisan) sindrom metabolik dan diabetes pada anak dan remaja.

"Skrining sangat membantu diagnosis dan tata laksana dini," imbuh dia.

sumber : Antara

Menkes Terus Pantau Virus Korona di Arab Saudi

Posted by infosukabumi | Kamis, 18 Juli 2013 | Posted in , ,

Jakarta, 17/7 - Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menyatakan akan terus memantau perkembangan penyebaran virus korona di Arab Saudi terkait ratusan ribu jemaah asal Indonesia yang sedang bersiap untuk melaksanakan ibadah haji ke negara tersebut Oktober mendatang.

"Kami juga telah melakukan sosialisasi kepada para jemaah haji (mengenai korona) tapi tidak vaksinasi, karena vaksin untuk penyakit ini belum ada," kata Menkes di Jakarta, Rabu.

Menkes juga mengatakan telah menerima surat pemberitahuan dan peringatan resmi dari Kementerian Kesehatan Arab Saudi soal bahaya Virus Corona Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan menegaskan akan terus melakukan pemantauan terutama mengenai dampak bagi para jemaah haji asal
Indonesia.

Menkes juga mengatakan Pemerintah tidak mengeluarkan surat larangan bepergian ke Arab Saudi meskipun ada ancaman virus korona tersebut tapi melakukan sosialisasi intensif bagi calon jemaah untuk dapat
mengantisipasi tertular virus itu.

"Sampai sekarang kami betul-betul menyiapkan agar calon jamaah haji dalam kondisi prima dan siap saat berangkat haji," kata Nafsiah.

Nafsiah bahkan mengimbau para lansia yang menderita penyakit kronis untuk dapat menunda rencana haji mereka meskipun tidak dapat memaksa jika para calon jemaah bersikeras untuk pergi haji tahun 2013.

Perlu diantisipasi oleh masyarakat yang akan bepergian ke negara-negara Semenanjung Arab antara lain jika terdapat demam dan gejala sakit pada saluran pernafasan bagian bawah seperti batuk atau sesak nafas dalam kurun waktu 14 hari, diminta untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Sedangkan untuk melindungi diri dari penularan penyakit saluran pernafasan termasuk virus korona, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk melakukan beberapa langkah yaitu pertama menutup hidup dan mulut dengan tisu ketika batuk atau bersin dan segera membuang tisu tersebut ke tempat
sampah.

Langkah kedua yang harus dilakukan adalah menghindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang belum dicuci, langkah ketiga menghindari kontak secara dekat dengan orang yang sedang menderita sakit serta keempat untuk membersihkan menggunakan desinfektan barang-barang yang sering disentuh.

Penyakit Middle East Respiratory Syndrome (MERS) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus korona yang disebut Middle East Respiratory Syndrome (MERS-Cov) dan pertama kali dilaporkan tahun 2012 di Arab Saudi.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat jumlah infeksi MERS-Cov di dunia mencapai 80 kasus dengan 44 kematian diseluruh dunia.

sumber : Antara

Pisau Bedah Pintar Bisa Endus Jaringan Kanker

Posted by infosukabumi | Rabu, 17 Juli 2013 | Posted in , , ,

London, 18/7 - Para ilmuwan menciptakan pisau bedah "pintar" yang dapat melacak --hanya dalam hitungan detik-- apakah jaringan kanker perlu dipotong, sehingga pada masa mendatang bisa menjanjikan ketepatan operasi pembedahan.

Peralatan yang dikembangkan oleh para peneliti di London Imperial College itu dapat membuat para dokter untuk memperkecil tindakan operasi tambahan dengan memotong habis tumor kanker.

Teknologi pisau bedah listrik itu secara tepat menggabungkan panas dengan massa spektrometer untuk menganalisis zat kimia dan memangkas jaringan kanker, bahkan juga dapat membedakan daging sapi dan daging kuda.

Dalam pembedahan seringkali sulit untuk membedakan batas antara jaringan tumor dan daging sehat melalui penglihatan biasa, sehingga sebagian jaringan kanker sering tersisa.

Seperlima pasien kanker payudara yang dudah menjalani operasi pengangkatan gumpalan jaringan kankernya, harus melakukan pembedahan kedua.

Pisau baru yang disebut "iKnife" itu dirancang untuk mengakhiri masalah tersebut dengan secara langsung memberikan contoh asap dari jaringan yang dipangkas memakai arus listrik, yang menandakan jika jaringan itu adalah kanker atau bukan.

Dalam uji pertama pemakaian pisau tersebut terhadap para pasien, pisau itu menganalisis contoh jaringan dari 91 orang pasien dengan tingkat ketepatan 100 persen, para peneliti dari London Imperial College melaporkan temuan mereka dalam Ilmu Kedokteran Translasional, Rabu.

Dewasa ini, jaringan yang diangkat dikirim ke laboratorium untuk diperiksa, sementara pasien masih menunggu dalam keadaan terbius --dan setiap pengujian memerlukan waktu sekitar satu setengah jam, sedangkan dengan iKnife, umpan baliknya hanya tiga detik saja.

Hal itu dilakukan dengan informasi analisis biologis yang diberikan melalui jaringan yang terbakar (listrik) dan membandingkannya dengan sumber data biologi dari sidik jari jaringan sehat dan tumor.

"Ini adalah temuan yang sungguh menarik dan teknik yang sangat menjanjikan untuk semua jenis pembedahan," kata Emma King, kepala bagian bedah kepala dan leher di Rumah sakit Southampton, Inggris yang tidak terlibat dalam penelitian.

Kini ia masih ingin melihat bagaimana iKnife bekerja untuk percobaan secara acak.

Zoltan Takats dari Imperial College yang menemukan alat itu mengatakan, ia berniat melakukan percobaan terhadap 1.000 hingga 1.500 pasien dengan berbagai macam jenis kanker.

Proses percobaan itu tampaknya memerlukan waktu sekitar dua atau tiga tahun, agar iKnife dapat diajukan untuk mendapat persetujuan sebagai pisau bedah, dan membuka jalan untuk dipasarkan.

Takats sudah menemukan perusahaan MediMass di Budapest yang akan mengembangkan produk tersebut dan berharap mendapatkan kesepakatan kemitraan dengan perusahaan teknologi kesehatan besar lainnya guna memasarkannya ke Amerika Utara dan Eropa.

Peralatan bedah berteknologi tinggi semakin banyak dipakai di rumah sakit  modern untuk melakukan operasi bedah yang semakin membaik, dan yang paling terkemuka adalah robot bedah da Vinci.

Untuk membuat iKnife edisi percobaan ini telah menghabiskan dana 300 ribu  dolar AS, tetapi Takats mengatakan jika kelak memasuki pasar harganya akan turun.

Penelitian itu disambut baik oleh Menteri Kesehatan Lord Howe yang mengatakan bahwa teknologi itu akan menguntungkan bagi kedua pihak, pasien dan lembaga kesehatan dengan mengurangi jumlah pasien yang memerlukan operasi kedua untuk pengangkatan kanker.

Pisau tersebut menurut Takats juga memiliki keunggulan di luar penanganan kanker, yaitu bisa mendata jika pasokan darah tidak cukup serta mengenali jenis bakteri yang menempel pada jaringan.

sumber :Antara/Reuters
Diberdayakan oleh Blogger.

    Blog Archive